Kamis, 08 Oktober 2009

Menguraikan Plastik Dari Botol Minum Menjadi Catridge Printer

Volume sampah di daerah perkotaan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Berdasarkan hasil survei Biro Pusat Statistik, pada tahun 1996/1997, Kota Jakarta dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta menghasilkan sampah 25.404 meter kubik per hari. Sedangkan tahun 1998/1999 volume sampah per harinya mencapai 26.320 meter kubik, atau naik 3,6%.

Mengutip pernyataan The Body Shop, jika tiap hari sampah yang dihasilkan warga Jakarta seberat 6.955 ekor gajah, sampah kantung plastik yang bisa menutupi 2.600 lapangan sepak bola, dan sampah kertas yang jumlahnya sama dengan menebang 10.710 batang pohon, maka sudah saatnya kita bertindak bagi lingkungan (info klik disini).

Sejak tahun 1992 dunia telah digemprakan oleh isu global warming, tapi apa yang dilakukan oleh penduduk bumi? Polusi air dan udara semakin meningkat, penebangan pohon secara liar, lubang di lapisn ozon semakin bertambah, padahal hanya bumi tempat kita tinggal di dunia ini. Apa jadinya jika suatu saat bumi sudah tidak mampu menahan brutalnya pola hidup manusia yang semkin boros dalam menghasilkan sampah? Apa kita mau mengungsi ke planet lain??atau ke alam lain??

Adalah plastik, suatu material yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk alat pengemas, perabotan rumah tangga dan kantoran, hingga mainan anak-anak. Jika kita lihat dari kegunaannya (misalnya sebagai alat pengemas barang belanjaan), tentu kantong plastik tersebut sangat bermanfaat. Selain memudahkan kita membawa barang belanjaan, karakteristiknyaa yang ringan dan kedap air pun membuat kita nyaman. Dan yang pasti, tempat belanja yang kita kunjungi hampir selalu memberikan plastik tersebut secara cuma-cuma.

Barang lain yang terbuat dari bahan plastik dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah botol kemasan air mineral. Coba kita hitung, berapa kali kita membeli minuman yang dikemas dalam botol plastik tiap minggunya? Belum lagi kegiatan-kegiatan di kampus (misalnya) yang selalu menyertakan minuman dalam kemasan sebagai bagian dari konsumsi.

Taukah plastik memerlukan waktu hingga 500 tahun untuk dapat terurai kembali? Dan ternyata, untuk membuat air minum kemasan 1 liter diperlukan 6 liter air! Lima liter air tersebur digunakan untuk mendinginkan kemasan botol tersebut. The Body Shop menghitung di Indonesia hingga akhir 2003, penggunaan bahan plastik diperkirakan mencapai 2 juta ton. Adapun potensi limbahnya sekitar 80 persen atau 1,6 juta ton.

Sebenarnya kalau kita mau, plastik dapat digunakan kembali ataupun diubah menjadi sesutu yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti berbagai macam kerajinan yang sering kita lihat di televisi, internet, maupun majalah-majalah.

Pada umumnya kaca, plastik, dan logam memiliki alur proses daur ulang yang sama, yang membedakannya hanyalah mesin yang digunakan dan suhu peleburan. Untuk daur ulang plastik menjadi biji plastik alatnya Mesin Proses/Recycle/Pallettizing dan sudah ada supplier untuk mesin tersebut. Sampah plastik juga bisa didaur dengan menggunakan proses extruding. Sedangkan untuk sampah logam, bisa digunakan proses recovery untuk memurnikan logam tersebut menyerupai kondisi semula dan bisa dipakai dalam proses industri yang dapat mempergunakannya. Untuk sampah kaca sepertinya agak sulit, namun kemungkinan bisa menggunakan treatment recovery pula (info lengkap klik disini).

Salah satu perusahaan terkemuka di dunia hardware komputer, HP, berhasil membuat katrid inkjet dari plastik botol air minum dan telah dipasarkan! Lebih dari 200 juta katrid telah diproduksi dengan menggunakan proses ini. Atas inovasi tersebut, The Society of Plastics Engineers, organisasi perdagangan untuk para profesional dibidang plastik, berencana memberikan penghargaan paling prestisius dalam hal pelestarian lingkungan kepada HP diacara The Global Plastics Environmental Conference.

HP memanfaatkan lebih dari 5 juta pound plastik daur ulang untuk produksi katrid inkjet-nya pada tahun 2007, selanjutnya HP berkomitmen untuk terus menggunakan bahan yang sama sebanyak dua kali lipat pada tahun 2008. Michael Hoffmann, Senior Vice President, Supplies, Imaging and Printing Group HP optimis bahwa program ini dapat mengurangi polusi di bumi kita tercinta ini.

Proses daur ulang HP yang inovatif memudahkan pengumpulan dari berbagai sumber dan kondisi dari plastik daur ulang (botol air minum sehari-hari) menjadi katrid HP Inkjet dengan teknik tinggi. Sebagai rancangan yang berkesinambungan, penggunaan konten daur ulang dapat menghemat energi dan mencegah bertambahnya sampah plastik di area-area pembuangan sampah. Sejak awal program ini berjalan, HP telah menghabiskan plastik hingga 200 truk trailer.

HP memiliki HP Planet Partners sebagai tempat pengembalian katrid Inkjet HP di 45 negara, wilayah dan teritori. Program ini memungkinkan terjadinya proses daur ulang multi-fase yang meleburkan bekas katrid menjadi bahan baku, seperti plastik dan logam. Konsumen dapat menaruh kepercayaan terhadap pengelolaan lingkungan HP karena katrid yang dikembalikan melalui Planet Partners tidak pernah diisi ulang, dijual kembali, atau dibuang.

Katrid inkjet baru ini dibuat dengan menggabungkan plastik dari katrid bekas dengan botol yang didaur ulang serta beberapa bahan tambahan lainnya sehingga katrid yang dihasilkan memenuhi standar kinerja HP yang tinggi. Dari total plastik yang digunakan, sekitar 70 hingga 100% nya adalah plastik daur ulang, namun keandalan hasil dari setiap produk benar-benar telah teruji dan HP konsisten dengan program ini.

Penggunakan konten daur ulang merupakan kemajuan yang paling mutakhir dari program Design for Environment HP. Program ini nyata dalam memperkecil dampak lingkungan dari katrid HP melalui penggunaan bahan, kemudahan dalam mendaur ulang serta pengepakan secara efisien.

Sumber:
(http://www.biskom.web.id/2008/02/09/hp-daur-ulang-plastik-botol-air-minum-menjadi-katrid-inkjet.bwi)
Semoga bermanfaat.

Sabtu, 03 Oktober 2009

DAUR ULANG KERTAS

Dengan alat sederhana yang ada di rumah, kita dapat memanfatkan kembali kertas yang tidak terpakai. Hasilnya mungkin tidak berupa kertas yang mulus licin untuk ditulisi. Kita dapat menggunakan kertas ini sebagai bahan kerajinan tangan. Yang penting, dengan membuat kertas sendin, sampah kertas dapat kita kurangi.

1. Robek-robek kertas dalam ukuran kecil. Rendam dalam seember air selama semalaman.

2. Ambil sekitar 1,5 gelas kertas renclaman, masukkan ke dalam blender. Tambahkan 2 gelas air dan hancurkan sampai merata.

3. Tuang larutan halus tadi ke dalam baskom lebar. Saring menggunakan saringan kasa berbingkai,
sehingga selapis tipis kertas berada di permukaannya.

4. Tempelkan lapisan kertas yang baru ini ke permukaan keras yang rata, misalnya papan kayu. Lepaskan dari saringan kasa.

5. Serap permukaan kertas yang baru dengan kain untuk mengtilangkan kelebihan air. Jemur hingga betulbetul kering di terik matahari,

6. Saat kertas baru sudah kering, lepaskan perlahann dari permukaan papan. Agar kertas memiliki motif yang cantik, tambahkan daun-daunan atau bahan lain pada saat penyaringan. Dengan begitu, bahan tambahan in akan ikut menyatu bersama bahan kertasnya

Kamis, 30 Oktober 2008

  • Bikin Kompos di Rumah
Memandang sampah bukan sekadar barang-barang bekas seharusnya dimulai dari rumah. Hal sederhana dimulai dengan memilah-milah antara sampah basah dan sampah kering sehingga sampah yang masih bisa dipakai bisa diambil pemulung atau dimanfaatkan sendiri tanpa perlu repot memisahkan lagi.

Memilah sampah di sebagian kecil rumah tangga di Jakarta memang sudah diterapkan. Yang terbuang akhirnya hanya sampah basah seperti sisa-sisa sayuran, buah, atau daun-daun dari tanaman di sekitar rumah.

Keinginan untuk bisa mengajak warga bisa memanfaatkan sampah mendorong Teti Suryati (45), warga RT 04 RW 05 Kampung Bulak, Klender, Jakarta Timur, gencar sosialisasi dari pintu ke pintu. Awalnya, sekadar memperkenalkan pemilahan sampah basah, sampah kering, serta sampah limbah berbahaya dan beracun.

Dengan beragam ilmu yang diperolehnya saat terpilih menjadi instruktur lingkungan hidup untuk guru-guru se-DKI Jakarta di bawah naungan Western Java Environment Management Project (WJEMP) dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta sejak tahun 2005, Teti berusaha untuk mengajak warga bisa mengolah sampah menjadi barang lain yang bisa digunakan kembali. Impiannya sederhana, pengolahan sampah itu bisa dimulai dari rumah.

"Sampah kering sudah biasa dimanfaatkan, tetapi yang sampah basah tetap dibuang begitu saja. Padahal, sampah jenis ini bisa dibuat jadi kompos. Namun, pembuatan kompos sering kali tidak menarik minat warga," kata ibu tiga anak ini.

  • Menciptakan alat sederhana
Dari ajakan itu, akhirnya tercipta belasan alat pembuatan kompos. Dengan memanfaatkan kaleng bekas cat berukuran 25 kilogram yang dicat atau digambar secara menarik, dibuatlah wadah untuk menampung sampah basah yang hendak diubah menjadi kompos.

Di dalam kaleng yang dilubangi di bagian samping dan bawah itu diberi besi berjeruji yang memiliki putaran di luar. Dengan alat ini, warga yang membuat kompos tinggal memutar saja alat pemutar tanpa harus membuka tutup kaleng.

Prinsipnya, tumpukan sampah dalam kaleng itu harus diaduk untuk mengurangi suhu tinggi. Oksigen juga harus leluasa untuk membantu fermentasi yang baik. Dengan demikian, sampah tidak bau.

"Kaleng baru penuh sekitar tiga bulan. Sampah dapur setiap rumah kan sedikit sekali. Sisa-sisa sampah itu dipotong-potong, lalu dimasukkan ke kaleng," ujar Teti yang dikenal sebagai penggerak cinta lingkungan di RW-nya.

Menurut Teti, pembuatan kompos bisa dilakukan secara tradisional atau dengan menambahkan mikroorganisme. Untuk rumah tangga yang menghasilkan sampah basah sekitar 0,5- 2 kilogram per hari, lebih baik memilih cara tradisional.

Di bagian bawah kaleng diberi pasir setinggi 10 sentimeter. Di atasnya ditaruh sampah basah yang sudah dicacah. Untuk mengurangi bau bisa ditaburi tahi gergaji atau kompos yang sudah jadi. "Sampah kan jadi tidak terbuang percuma dan tidak memakan tempat. Jika pakai mikroorganisme, biasanya saya pakai EM4, dalam dua minggu sampah sudah jadi kompos," katanya. Ester L Napitupulu

Sumber : KOMPAS

Senin, 28 Juli 2008

Sampah & Pengelolaannya

Pernahkah kita menghitung sudah berapa banyak sampah yang kita buang dalam sehari. Sisa makanan, kertas, barang-barang dari plastik, kain-kain bekas, tisu, botol-botol, bahkan mungkin sampai mainan-mainan atau peralatan rumah dan kendaraan yang tak terpakai lagi serta masih banyak lagi. Jika kita sedang jalan-jalan, coba lihat tempat sampah di wilayah pertokoan. Tempat sampah disana mungkin jadi menggunung dengan kardus-kardus bekas, kemasan styrofoam, kantong plastik, sisa-sisa makanan dari restoran, dan lain sebagainya. Lalu coba kita tengok tempat sampah di rumah sakit. Volumenya mungkin sama besarnya, tetapi sampahnya lebih banyak terdiri dari perban bekas, obat-obatan tak terpakai, botol-botol infus dan sebagainya. Diperkirakan bahwa rata-rata penduduk di kota membuang sampah sebanyak 1 - 2 kg sehari.

Jenis-jenis sampah

Sampah organik yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara alamiah/ biologis. Misalnya adalah sisa makanan

Sampah anorganik yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis sehingga penghancurannya membutuhkan penanganan lebih lanjut. Misalnya adalah plastik dan styrofoam

Sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan berbahaya dan beracun. Misalnya adalah bahan kimia beracun

Kompos adalah sampah yang teruraikan secara biologis, yaitu melalui pembusukan dengan bakteri yang ada di tanah, dan kerap digunakan sebagai pupuk.Jadi bisa dibayangkan banyaknya sampah seluruh kota dalam sehari. Apa jadinya bila sampah-sampah ini tidak tertangani? Tentunya tidak mustahil kalau kota kita tertimbun oleh sampah bukan? Karenanya, kita dianjurkan untuk meminimalkan terjadinya pembuangan sampah terutama yang tergolong sampah B3.

Sampah menjadi masalah�

Bagaimana kehidupan masyarakat kita ke depan, jika persoalan sampah tidak segera diselesaikan. Permasalahan sampah bukan hanya berdampak pada persoalan lingkungan, tetapi juga telah menimbulkan kerawanan sosial dan bencana kemanusiaan. Berbagai kasus, seperti di Bantargerbang, Bojong Gede, dan Leuwigajah, mengingatkan kita bahwa persoalan sampah bukan hal yang sepele. Lalu, apa yang dapat kita lakukan agar sampah tidak menggunung dan membuat lingkungan tidak sehat? Ada beberapa hal kreatif dan efektif yang bisa kita lakukan yaitu menerapkan prinsip 4R : Replace (mengganti), reduce (mengurangi), re-use (memakai), dan recycle (daur ulang).

Sistem Pengelolaan Sampah

Ada berapa cara pembuangan sampah?
Secara garis besar ada tiga yaitu : cara kimiawi melalui pembakaran, cara fisik melalui pembuangan di TPA, dan cara biologis melalui proses kompos. Yang lazim dilakukan untuk sampah dalam jumlah besar adalah secara fisik.

Bagaimana siklus sistem pengelolaan sampah?

Sampah dari rumah-rumah dikumpulkan dan disimpan dalam tempat atau kontainer sementara, untuk kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk diolah sebelum dibuang.

Mengapa sampah yang dibuang harus diolah dulu?

Tumpukan sampah yang tidak diolah terlebih dulu dapat mengundang lalat, tikus, pertumbuhan organisme- organisme yang membahaya- kan, mencemari udara, tanah dan air, serta... mengganggu kenyamanan kita!

Bagaimana penanganan sampah di TPA?

TPA sering juga disebut landfill, yaitu tempat pembuangan yang memiliki dasar impermeable (tidak tembus air) sehingga sampah yang diletakkan diatasnya tidak akan merembes hingga mencemari air dan tanah disekitarnya. Sampah- sampah yang datang diletakkan secara berlapis, dipadatkan, dan ditutupi dengan tanah liat untuk mencegah datangnya hama dan menghilangkan bau. TPA umumnya dibuat untuk bisa menampung sampah selama jangka waktu beberapa tahun.

Apa itu insinerator?

Insinerator adalah perangkat pembakaran sampah yang efisien dan bisa mengurangi polusi udara. Insinerator yang baik memiliki sistem penangkal pencemar udara di cerobongnya (walaupun tetap menyebabkan pencemaran udara), dan sanggup mengurangi volume sampah sampai 80%nya seusai dibakar

REPLACE
Ganti dengan barang ramah lingkungan

Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidka bisa didegradasi secara alami

REDUCE
(Kurangi Sampah!)

Coba cara-cara ini :

  1. Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah kantong plastik pembungkus barang belanja
  2. Membeli kemasan isi ulang untuk shampoo dan sabun daripada membeli botol baru setiap kali habis
  3. Membeli susu, makanan kering, deterjen, dan lain-lain dalam paket yang besar daripada membeli beberapa paket kecil untuk volume yang sama

RE-USE
(Gunakan sisa sampah yang masih bisa dipakai!)

Coba cara-cara ini :

  1. Memanfaatkan botol-botol bekas untuk wadah
  2. Memanfaatkan kantong plastik bekas kemasan belanja untuk pembungkus
  3. Memanfaatkan pakaian atau kain-kain bekas untuk kerajinan tangan, perangkat pembersih (lap), maupun berbagai keperluan lainnya

RECYCLE
(Daur Ulang Sampah!)

Daur ulang sendiri memang tidak mudah, karena kadang dibutuhkan teknologi dan penanganan khusus.
Tapi teman-teman bisa membantu dengan cara-cara ini :

  1. Mengumpulkan kertas, majalah, dan surat kabar bekas untuk di daur ulang
  2. Mengumpulkan sisa-sisa kaleng atau botol gelas untuk di daur ulang
  3. Menggunakan berbagai produk kertas maupun barang lainnya hasil daur ulang

Jangan bakar sampah sembarangan!

Mengapa? Karena sampah bisa terdiri dari berbagai bahan yang belum tentu aman. Bahan seperti kaleng aerosol dapat meledak bila kena panas, sedangkan bahan dari plastik dan karet dapat menghasilkan gas yang menimbulkan kanker bila dibakar! Bila pembakaran tidak bisa dihindari, pastikan bahwa hanya sampah organik yang dibakar, tidak terlalu banyak sampah basah, dan lakukan jauh dari kerumunan orang banyak atau benda lain yang dapat memperburuk pembakaran. Kita tentunya tidak ingin menyebabkan kebakaran, bukan?

Nah, mudah-mudahan dengan artikel ini kita semakin sadar bahwa masalah sampah jangan dianggap masalah yang sepele karena menyangkut kebersihan lingkungan kita. Jika lingkungan tak bersih bukan tak mungkin penyakit akan mudah mengenai kita... dan ingat selalu "Buanglah sampah pada tempat yang sudah disediakan".

Sumber : http://www.walhi.or.id